Pocong di Rumah Tua

rumah angker dan berhantu

Aku bersama ketujuh kawanku terpaksa harus tinggal di sebuah rumah tua yang telah lama tak ditinggali oleh pemiliknya yang sudah meninggal selama satu bulan. Kami tinggal disitu bukan tanpa alasan. Ada proyek yang harus kami kerjakan di desa, sehingga mau tak mau, kami pun harus bersedia tinggal di rumah tua itu.

Awal aku memasuki rumah itu, rasanya biasa saja. Layaknya rumah yang telah lama tak ditinggali, rumah itu kotor dan berdebu. Kami pun membersihkan dan merapikan rumah tua  itu, sehingga nyaman untuk kami tinggali. Malam pertama, masih biasa saja. Namun, malam-malam berikutnya mulai muncul keanehan-keanehan yang membuat bulu kuduk kami berdiri.

Kawanku lah yang pertama kali merasakan ada keanehan di rumah yang kami tempati. Dia bercerita pada kami bahwa dia mendengar suara orang menangis atau tertawa tiap kali mandi atau pergi ke dapur. Awalnya aku tak mempercayainya. Kupikir kawanku hanya berhalusinasi atau semacamnya. Hingga akhirnya aku pun mengalaminya sendiri. Aku mendengar ada suara anak-anak yang tengah berbicara sambil sesekali tertawa. Seketika aku langsung merinding dan segera masuk ke dalam rumah.

Hari berikutnya, kawanku yang tengah mengerjakan proyek di desa lain, datang berkunjung. Kubawa dia masuk dan melihat-lihat rumah yang kami tempati karena dia juga bertugas sebagai koordinator kami. Tiba-tiba saja, dia menunjukkan ekspresi terkejut ketika kubawa dia ke sekitar dapur dan kamar mandi. Ketika kutanya, dia berkata tidak ada apa-apa. Namun, aku curiga pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku pun berencana menanyainya lagi ketika aku mengunjunginya.

Hari demi hari berlalu. Kami pun mulai terbiasa dengan suara-suara aneh yang terdengar. Hanya saja, kali ini keanehan yang berbeda pun mulai terjadi. Salah satu kawanku kehilangan cincinnya yang diletakkan di samping ember tempat cuci piring. Aku dan kawanku yang lain pun membantu mencarinya. Aneh, cincin itu tak ditemukan dimana pun sampai kami lelah mencari dan kawanku memutuskan untuk mengikhlaskan cincinnya yang hilang. Beberapa jam kemudian, ketika aku selesai mencuci baju, aku melihat ada sesuatu yang berkilau di dalam ember tempat cuci piring. Kuhampiri ember itu, dan kudapati ada sebuah cincin di dalam ember itu. Aku berteriak memanggil kawanku yang kehilangan cincinnya, lalu bertanya padanya apakah benar itu cincinnya yang hilang. Dan dia pun mengangguk.

“Aneh. Bukannya tadi kita sudah mencarinya disitu dan tidak ada? Kenapa tiba-tiba ada?” tanyanya heran.

Aku pun menggelengkan kepalaku tak tahu. “Mungkin ada yang pengen ngajak kamu main. Hehe…”

“Ih kamu nih! Ah aku jadi merinding.” Jawabnya sambil berjalan masuk kembali ke dalam.

Hari berikutnya, aku bertemu kembali dengan kawanku yang tempo hari datang mengunjungi kami. Aku pun tak bisa lagi menahan rasa penasaranku. Aku tahu kawanku ini memiliki kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk ghaib. Kupaksa dia untuk menceritakan apa yang sebenarnya dia lihat di rumah tua yang aku tempati bersama kawan-kawanku. Akhirnya, dia pun bercerita bahwa rumah yang kami tempati itu dipenuhi dengan makhluk-makhluk ghaib beraneka rupa.

“Sebenarnya waktu aku masuk rumahmu, aku sudah merasakan bahwa rumah itu banyak makhluk ghaib-nya. Hingga waktu kamu bawa aku ke kamar mandi, aku kaget karena ada Pocong di rumah tua ini. Aku pengen ngasih tahu kamu, tapi kuurungkan niatku itu karena kupikir kamu bisa jagain teman-temanmu. Kamu kan sering ngaji. Jadi ya kupikir aman-aman saja. Ya dibanyakin aja ngajinya,” tutur kawanku.

Aku menganggukkan kepala mendengar nasihatnya. Kami masih harus tinggal di rumah tua  itu dalam waktu dua minggu-an. Kami harus tetap bertahan sampai proyek kami selesai, baru kami bisa pulang.

Hingga, kejadian-kejadian aneh lainnya pun terjadi…

Bersambung . . .

Tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.