Kesurupan di Rumah Tua

hantu rumah tua

kesurupan

Kesurupan di Rumah Tua

Setelah kejadian tengah malam yang menggegerkan itu, aku jadi merinding tiap kali hendak ke belakang. Bahkan Maya sampai minta ditemani tiap mau ke toilet atau tuk sekedar cuci piring. Aku harap setelah adanya kejadian itu, Emil, Anis, dan Anti bisa lebih menjaga sikapnya.

Esoknya, Devi, anak salah satu warga desa, datang ke rumah. Ternyata Rere yang mengundangnya untuk datang karena dia penasaran pada penunggu rumah tua yang kami tempati. Kebetulan, Devi punya kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk ghaib. Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan penunggu rumah tua ini selama mereka tidak menggangguku. Akan tetapi, rasa penasaran pun membuatku ikut mendengarkan obrolan Rere dan Devi.

“Jadi, ada berapa banyak sih Dev yang tinggal di rumah ini?” tanya Rere.

“Banyak banget Mbak,” jawab Devi, “tapi Mbak nggak usah takut. Soalnya yang tinggal disini pendatang semua.”

“Maksudnya gimana Dev?” tanyaku tak mengerti apa yang dia maksud.

“Jadi gini, makhluk-makhluk ghaib yang tinggal disini itu bukan asli penunggu rumah ini. Jadi, mereka semacam tamu gitu yang berdatangan. Makanya saya bilang, Mbak nggak usah takut. Soalnya mereka nggak punya pemimpin. Jadi, mereka nggak berbahaya Mbak. Paling ya Cuma iseng-iseng aja. Beda kalau mereka semua asli sini. Pasti mereka punya pemimpin. Dan misalkan ada pemimpinnya, mereka akan lebih berani lagi,” tutur Devi.

Aku dan Rere manggut-manggut mendengarkan penjelasan Devi. Setidaknya kami jadi sedikit lebih lega mendengarnya.

Dua hari kemudian…

Setyo mendadak datang ke rumah dan mengajak kami untuk rapat membahas keberjalanan proyek kami selama ini. Nampaknya ada sesuatu yang ingin Setyo sampaikan, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Tidak biasanya Setyo mengajak rapat malam-malam begini. Biasanya dia justru berpesan agar kami segera tidur, sehingga esoknya bisa fit saat mengerjakan proyek.

Benar saja. Usai membahas proyek kami, Setyo menarik nafas dalam sebelum akhirnya menatap ke arah Emil dan mengeluarkan semua keluhannya terhadap ketidakdisiplinan Emil selama ini. Emil hendak membantah Setyo, tapi Setyo terus bicara, sehingga Emil akhirnya terdiam mendengarkan.

Emil menundukkan kepalanya. Dia terdiam, tak memberikan reaksi apapun hingga Setyo selesai bicara. Ada yang aneh. Tiba-tiba saja Emil mendongakkan kepalanya sambil tertawa ala Kuntilanak. Kami pun terkejut dan spontan bergerak mundur menjauhi Emil. Hanya Anis dan Anti yang masih setia duduk di samping Emil. Anti menggoyang-goyangkan pundak Emil, berusaha untuk menyadarkannya. Namun, Emil justru tertawa semakin keras sampai akhirnya tubuhnya mengejang dan menggelepar-gelepar di lantai rumah tua. Matanya melotot dan bergerak kemana-mana. Kami kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Setyo terlihat cemas dan merasa bersalah. Anti dan Anis bergerak mundur menjauhi Emil yang semakin menjadi. Ya, kesurupan di rumah tua pun tak terelakkan lagi.

Aku segera maju menghampiri Emil dan menahan tangannya yang bergerak kemana-mana. Dito dan Eza membantuku menahan badan dan kaki Emil yang masih menggelepar-gelepar. Tenaga Emil benar-benar telah meningkat berkali-kali lipat. Kami berhasil dibuatnya kewalahan. Bahkan Dito yang bertubuh besar dan kekar pun hampir saja terjungkal. Kuminta Setyo dan yang lain untuk segera minta bantuan pada warga, sementara aku, Dito, dan Eza menahan Emil yang masih kesurupan. Kubacakan ayat kursi dan do’a-do’a lainnya ke telinga Emil. Kutekan telapak tangannya sambil terus membaca ayat kursi. Tiba-tiba saja dia berteriak kencang, lalu tak sadarkan diri.

Huh… akhirnya kami bisa menarik nafas sejenak. Menahan Emil yang kesurupan di rumah tua itu benar-benar telah menguras tenaga kami.

 

Bersambung . . .

Bookmark the permalink.

Comments are closed.