Keranda Terbang

keranda terbang

Keranda Terbang

Tubuh Ramli masih menggigil. Dia tutup seluruh badannya menggunakan selimut sambil berbaring di atas kasurnya. Bola matanya bergerak kesana kemari seolah ada yang tengah mengintainya. Aku duduk terdiam di sampingnya menunggu dia tenang.

Hampir saja aku tertidur ketika tangan Ramli menyentuh bahuku perlahan. Kuambilkan segelas air minum, lalu kuberikan padanya. Dia meneguk air itu, lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata,

“Don, sepertinya umur gue gak lama lagi.”

“Maksud Lu apa sih tiba-tiba ngomong gini? Ngaco Lu ah. Udah Lu istirahat lagi aja! Udah larut juga ini.” kataku.

Ramli lalu bercerita bahwa dia baru saja melihat keranda terbang di depan kontrakan kami. Tepatnya pukul 11 malam ketika aku masih dalam perjalanan pulang dari kerja, ada yang mengetuk pintu depan. Ramli lalu segera ke depan membukakan pintu karena mengira itu adalah aku. Akan tetapi, yang dia lihat justru sesuatu yang mengejutkan dan membuat bulu kuduknya merinding.

Sebuah keranda terbang di halaman depan seolah ada makhluk-makhluk tak kasat mata yang tengah mengangkatnya. Bau menyan pun semerbak menambah suasana mistis yang dirasakan Ramli waktu melihatnya. Kakinya mendadak kaku untuk digerakkan. Sampai akhirnya keranda terbang itu berbalik ke arahnya dan Ramli pun jatuh terjerembab. Tergopoh-gopoh dia segera menutup pintu, lalu masuk ke dalam kamar dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Konon, barang siapa rumahnya didatangi keranda terbang dan dia melihat keranda terbang itu, esoknya musibah akan terjadi padanya. Karena itulah Ramli berfikiran bahwa hidupnya tak lama lagi. Kutepuk pundaknya, mencoba membuatnya tenang. Entah benar atau tidak, kami hanya bisa berdo’a.

Bookmark the permalink.

Comments are closed.