Jin Penjaga Warisan Nenek Moyang

jinJin Penjaga warisan nenek moyang

Malam itu kami benar-benar tak menyangka bahwa Emil akan kesurupan. Jika tak kami hentikan, mungkin kakinya akan mengenai kaca aquarium yang dibawa Setyo untuk proyek kami. Setyo berdiri mematung melihat badan Emil yang menggelepar-gelepar di lantai. Dia tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya terlihat cemas. Mungkin Setyo berfikir kesurupan itu terjadi karena dia menekan Emil untuk menjawab semua pertanyaannya sewaktu dia menegur Emil atas sikapnya yang tak bertanggung jawab selama kami mengerjakan proyek.

Setelah akhirnya Emil tak sadarkan diri, kuminta Adhi dan Dito untuk membawanya masuk ke dalam kamar. Tak lama, Pak Zen datang bersama seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki itu meminta segelas air, lalu membacakan do’a-do’a ke air tersebut. Setelah selesai dibacakan do’a, laki-laki itu meminta kami untuk meminumkan air itu pada Emil. Tak ada yang berani melakukannya. Mau tak mau, aku lah yang melakukannya. Aku masuk ke kamar Emil, lalu mencoba meminumkannya padanya. Namun, Emil menutup mulutnya rapat-rapat dan menolak meminumnya. Kupaksa dia untuk minum, tapi dia segera menyemburkan air tersebut, sehingga tak ada air yang berhasil dia telan.

Beberapa menit kemudian, laki-laki paruh baya itu meminta Emil dibawa ke ruang tengah. Anis dan Anti membantu Emil berjalan menuju ruang tengah, lalu membaringkannya di dipan yang ada di ruang tengah. Emil terlihat lemas. Wajahnya pucat dan kakinya sangat dingin. Setyo berdiri di samping pintu sambil terus menatap ke arah Emil. Kudekati dia, lalu kukatakan padanya bahwa semua ini bukan salahnya. Dia hanya mengangguk sambil tetap menatap ke arah Emil yang terbaring.

Pak Zen dan laki-laki paruh baya yang datang bersamanya duduk di dekat dipan tempat Emil terbaring. Laki-laki itu lalu menyentuh tangan Emil sambil komat-kamit. Entah apa yang dia baca. Seketika itu juga, Emil tiba-tiba berteriak kesakitan sambil menendang-nendangkan kakinya. Kami hendak menahannya, tapi laki-laki itu segera menghentikan kami dan meminta kami untuk membiarkan Emil begitu saja karena hal tersebut hanya akan membuat kami lelah dan menguras energi kami.

Tak lama, Emil pun mulai tenang dan terdiam. Lalu, perlahan Emil bangun dan duduk di atas dipan sambil menatap laki-laki paruh baya itu. Matanya melotot sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah laki-laki itu.

“Kowe ojo wani-wani karo putuku (Kamu jangan berani-berani sama cucuku – pen)!” ucap Emil dengan nada yang berbeda dari biasanya dia bicara.

Kami semua terkejut mendengarnya. Laki-laki paruh baya itu bertanya siapa dia. Emil pun menjawab bahwa dia adalah nenek Emil yang sudah lama menjaganya. Dia berkata bahwa dia datang untuk membantu cucunya yang sedang kesulitan. Dia tak akan pergi dari situ sampai cucunya benar-benar aman. Laki-laki paruh baya itu pun terus melanjutkan negosiasinya dengan jin yang merasuki tubuh Emil. Negosiasi yang terjadi antara laki-laki paruh baya itu dengan jin penjaga warisan nenek moyang Emil itu pun berlangsung cukup lama sampai akhirnya jin itu keluar dari tubuh Emil dengan sendirinya.

Aku duduk bersama Ayu dan Maya di ruang depan. Kami benar-benar sudah lelah dengan apa yang kami alami di rumah tua ini. Ditambah lagi dengan Emil dan jin penjaga warisan nenek moyang-nya. Pantas saja aku merasa ada yang aneh selama ini dengan sikap Emil. Kami pun memutuskan untuk tak mengacuhkan lagi apa yang diperbuat Emil. Biarlah dia berbuat sesuka hatinya. Kami hanya perlu lebih bersabar sampai proyek kami ini selesai. Nova dan Rere menyusul kami ke depan lalu duduk di sampingku. Aku yakin, mereka pun merasakan hal yang sama. Mereka pun lelah atas semua yang menimpa kami.

Malam berikutnya, kami menghadiri lomba dan pentas seni yang merupakan rangkaian dari acara sedekah bumi yang diadakan di desa. Acaranya sangat meriah, tapi entah kenapa kami tak begitu bergairah mengikutinya. Aku, Ayu, Nova, Maya, dan rere akhirnya memutuskan untuk pulang, sementara Emil, Anis, dan Anti masih asyik melihat pentas seni bersama para pemuda desa. Kami duduk-duduk di depan rumah sambil menikmati indahnya malam di pedesaan. Aku melihat sosok Devi berjalan menuju rumah tua yang kami tempati. Dia tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Devi memang sering mengunjungi kami tuk berbincang-bincang atau tuk sekedar menyapa kami. Rere yang paling antusias dengan kedatangan Devi karena kemampuan indera ke enam yang dimiliki Devi. Rere seringkali menanyakan tentang kehidupan percintaannya kepada Devi.

“Mbak, tadi pas kalian semua pulang dari pentas seni, ada yang ngikutin kalian,” kata Devi.

“Siapa?” tanya Nova.

“Nenek-nenek. Tapi dia Cuma sampai di depan situ. Dia takut sama penunggu rumah tua ini,” jawab Devi.

Aku, Ayu, dan Maya hanya tersenyum. Kurasa, apa yang ada di pikiran kami sama. Pasti lah nenek-nenek itu adalah jin penjaga warisan nenek moyang Emil. Lama-lama, kami pun terbiasa dengan kejadian-kejadian aneh yang menimpa kami. Biarlah, selama kami tak menganggu mereka, mereka pun tak akan mengganggu kami.

Rere dan Nova pun mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum melihat mereka. Mereka berdua lah yang paling penakut di antara kami. Lagi-lagi Rere bertanya tentang kehidupan percintaannya pada Devi.

“Biarin aja Dev, gak usah dijawab,” kataku menggoda Rere.

“Ih kok gitu. Kan aku pengen tahu,” rengek Rere.

“Hahaha… Mbak Putri nih. Mentang-mentang sudah tahu,” kata Devi sambil tertawa.

“Hah? Sudah tahu apaan?” tanyaku tak mengerti.

“Heleh… sok nggak tahu. Mbak juga seperti aku, kan?” jawab Devi sambil tersenyum menggodaku.

Aku pun membalas senyumannya sambil menikmati kebersamaan kami di hari-hari terakhir menjelang kepulangan kami ke daerah asal kami masing-masing karena sebentar lagi proyek kami selesai. Ya, akhirnya….

Kita hidup di dunia ini berdampingan dengan makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Karenanya, kita harus saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lain.

 

The End.

Bookmark the permalink.

Comments are closed.