Penunggu Rumah Tua

rumah-tua

Masih di rumah tua, aku dan ketujuh kawanku tinggal hingga proyek yang kami kerjakan selesai. Sudah dua hari kami tidak menjumpai ada kejadian aneh lagi. Hingga suatu hari, Emil, Anis, dan Anti, mulai membuat ulah. Entah apa yang membuat mereka berubah. Mereka sering pergi entah kemana tanpa ijin terlebih dahulu kepadaku atau yang lain. Bahkan Emil mulai berani merokok secara terang-terangan di depan kami. Setyo, pemimpin proyek, yang kebetulan tengah datang berkunjung langsung menegur Emil agar lebih menjaga sikapnya mengingat kami tengah berada di desa orang. Namun, Emil tak mengindahkan apa yang Setyo katakan.

Malam harinya, Emil, Anis, dan Anti tengah berbincang-bincang sambil sesekali tertawa terbahak-bahak. Aku menegur mereka untuk memelankan suaranya mengingat hari sudah larut malam. Mereka bukannya memelankan suaranya, tapi justru mengeraskannya. Aku dan kawanku yang lain pun hanya bisa menghela nafas panjang, berharap tak ada yang terganggu dengan keberisikan mereka.

Tengah malam, saat semua telah terlelap, tiba-tiba saja terdengar suara kilatan listrik. Ayu membangunkanku dan Maya yang masih terlelap.

“Ada apa Yu?” tanyaku pada Ayu.

“Iya nih, masih ngantuk aku.” Kata Maya.

“Itu, lampunya kedip-kedip.” Kata Ayu sambil menunjuk lampu ruang tengah yang berkedip nyala-mati berulang kali.

Aku langsung membuka mataku lebar-lebar, memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Beberapa detik kemudian, lampu tiba-tiba mati. Kawan-kawanku yang tidur di kamar lain berteriak histeris dan langsung berlari menghampiri aku, Ayu, dan Maya yang kebetulan tidur di ruang depan. Ayu langsung menghubungi Setyo agar segera datang.

Beberapa menit kemudian, Setyo pun datang bersama Dito, Eza, dan Adhi. Mereka mengecek ke dalam rumah, sementara aku bersama kawan-kawan perempuanku yang lain menunggu di depan rumah. Tak lama, Setyo pun keluar.

“Lampunya gak bisa nyala. Sementara, gelap-gelapan dulu gak papa ya. Besok pagi saja baru dibenerin.” Kata Setyo.

“Iya, gak papa. Lagian juga udah larut.” Kataku.

“Eh gak bisa. Aku gak mau tidur di dalam.” Emil mulai berulah. Keributan pun terjadi. Emil keukeuh tak mau tidur di dalam dan memilih untuk ke rumah Pak Zen, salah satu warga yang biasanya membantu proyek kami.

“Mil, ini itu udah tengah malam. Nggak sopan kalau kita ke rumah beliau. Beliau juga pasti udah tidur.” Aku berusaha membujuk Emil.

Belum selesai kami berdebat, tiba-tiba saja Adhi yang masih berada di dalam rumah, berteriak. Kami pun langsung berlari menghampirinya. Wajahnya terlihat pucat. Dia duduk sambil memeluk lututnya. Badannya gemetaran.

“Ada apa Dhi?” tanya Setyo sambil memegang pundak Adhi.

“Tiba-tiba saja tadi pompa airnya nyala waktu aku ngecek ke belakang. Terus… terus… ada… a..da…” kata Adhi terbata-bata.

“Ada apa?” tanya Eza, “Yang jelas Lu ah kalau ngomong.”

“Ada suara aneh, guys. Suara orang marah-marah. Katanya kita udah ganggu mereka.” Jawab Adhi.

Aku, Ayu, dan Maya saling bertatapan. Ya, ini pasti karena Emil, Anis, dan Anti berisik semalam, sehingga mengganggu ‘penunggu’ rumah tua ini. Nampaknya penunggu rumah tua ini telah benar-benar terusik akan kehadiran kami.

Sesaat kami terdiam, hingga tiba-tiba saja terdengar suara ledakan kecil di dapur. Kami terkejut dan spontan berlari keluar rumah. Kali ini aku terpaksa menyetujui ide Emil untuk bermalam di rumah Pak Zen. Penunggu rumah tua ini nampaknya tengah marah.

 

Bersambung . . .

Bookmark the permalink.

Comments are closed.